Mengenal Kawasaki Z H2, Sosok Bengis Pabrikan Hijau Berbekal Supercharger

Motorgue, 30 May 2020
  •  Kawasaki Z H2
    Mengenal Kawasaki Z H2, Sosok Bengis Pabrikan Hijau Berbekal Supercharger
 Z H2 turut menjadi figur idaman, sejak rilis di Tokyo Motor Show akhir 2019.  Bukan Ninja empat silinder saja dinanti kawula muda. Di jajaran teratas, sesosok bengis Pabrikan Hijau, berbekal supercharger. Mulai awal April kemarin, versi naked Ninja H2 ini mulai mengaspal di Jepang, serta beberapa belahan Eropa. Dan dijual seharga GBP 15.149 – GBP 15.799, atau sekitar Rp 276 juta sampai Rp 288 jutaan di Inggris. Beginilah spesifikasi buasnya.

Motor ini mempunyai kapasitas mesin 998 cc empat silinder segaris DOHC 16-valve. Mendengar itu saja sudah bikin bergidik. Ini ditambah lagi supercharger, sistem induksi paksa yang diprakarsai gerakan piston, atau tenaga mesin. Otomatis, spontanitas tenaga makin terasa ketimbang turbocharger. Karena telah berfungsi sejak awal mesin menyala.

Karena itu wajar, daya maksimal mencapai 197 Hp dan torsi 137 Nm. Bukan tenaga main-main untuk motor seberat 239 kg. Soal ukuran diameter dan langkahnya sendiri tentu dibuat overbore, sesuai karakter motor (76 x 55 mm). Makanya tenaga baru optimal di 11.000 rpm, sementara momen puntir pada angka 8.500 rpm. Melengking cukup tinggi.
Penyalur ekstraksi daya pun layaknya motor balap. Girboks enam percepatan disematkan fitur quick shifter. Perangkat yang mampu membuat proses perpindahan gear tanpa kopling (setelah gigi satu), baik naik maupun turun. Tak luput, Assist dan Slipper Clutch memperhalus shifting. Sekaligus menunaikan tugas, agar tak terjadi selip dan terkunci pada roda. Tenaga raksasa sepertinya memang butuh pengamanan semacam ini.

Mekanisme tadi juga terbungkus rangka teralis, high tensile steel. Serta turut diperbantukan fork upside down Showa, serta monoshock bermerek sama. Tentunya dengan berbagai pengaturan. Kompresi, rebound damping, preload, dapat diset dalam banyak level. Tinggal sesuaikan kebutuhan pengendara.

Jangan khawatir. Peranti deselerasi jelas optimal, mengingat ia berada di kasta atas. Dua piringan cakram 320 mm semi-floating buatan Brembo tangkas menghentikan laju. Berkat kaliper empat piston masing-masing. Dan di roda belakang menempel disc brake 260 mm kaliper dua piston. Lengkap bersama sensor ABS Bosch dua kanal, yang kinerjanya tetap terjaga saat menikung tajam sekalipun.

Perangkat elektronik canggih ikut disertakan, memaksimalkan kemampuan Z H2. Semisal launch kontrol, bisa diaktifkan sewaktu-waktu pengendara ingin mencetak waktu akselerasi sempurna. Dari sensor yang sama, ia juga terjaga dari gejala wheelie. Jadi proporsi tenaga buas disalurkan pada momentum tepat. Tak terbuang sia-sia.
Lantas level kontrol traksi, atau tenar disebut Kawasaki Traction Control (KTRC), turut tersedia dan bisa disesuaikan. Berpadu dengan tiga mode mengendara. Pada intinya, apa yang diharapkan sebagai fundamental motor performa, sudah ada di dalam Z H2.

Tapi nyatanya, mereka tak hanya memenuhi kebutuhan pokok. Pengendara dimanja banyak fitur pemanja. Salah satunya cruise control. Ya, tak disangka-sangka, motor ber-DNA sport menyediakan ini. Cukup menjelaskan bahwa ia tak hanya bisa menaklukkan track, tapi juga dapat dibawa berkelana jauh.

Berikutnya konektivitas gawai. Cukup sinkronisasi dengan Bluetooth, segala informasi soal motor diterjemahkan ke genggaman tangan. Bahkan, mengatur riding mode saja bisa dilakukan dari situ. Panel instrumen pun sudah canggih. Selain memiliki layar full TFT, datanya lengkap. Tak perlu disebutkan satu per satu, namun kami rasa apa yang dibutuhkan lengkap tersaji.

Terakhir mengenai bentuk, diferensiasi dengan Ninja H2 biasa tentu terletak pada ditanggalkannya fairing. Namun setuju atau tidak, komposisinya tak benar-benar berubah. Z H2 tetap mewariskan desain sang pendahulu, tak kehilangan identitas. Mungkin, karena gurat cover lampu yang seakan menyatu ke bagian sisi. Tak seperti naked bike pada umumnya. Secara bersamaan, kesan sporty berpadu dengan posisi duduk lebih tegak dan relevan jika diajak berjalan jauh, berkat handlebar tinggi dan lebar. Tak begitu merunduk.
Sumber: oto